Kamis, 27 Juni 2013

Tiga Hari di Semarang




Kali Pertama kunjunganku ke luar daerah, dalam rangka study banding Badan Musyawarah ke DPRD Provinsi Jawa Tengah. Dua Hari yang lalu; 25/6/2013 aku menginjakkan kaki di Koa Semarang ini, kesan pertamaku adalah “Bandaranya Kecil”, Namun kemudian kuketahui penerbangannya padat.
Setelah istirahat sebentar aku sempatkan keliling dengan Taxi, ternyata kotan Semarang ini lebih Luas dari Kota Padang,  Namun Pebangunan di kota ini harus di akui sudah terpola dengan baik, dilihat di penerapan Tataruang, Pengelolaan Infestasi, pelestarian Situs Bersejarah, Kebersihan. Walau ada beberapa yang kita masih bersyukur Padang Masih lebih baik.
Disini aku tidak akan meceritakan kegiatan pokok (Karena semua seniorku kan orang hebat,..hehehe), Namun ada beberapa hal hang menarik untuk kita bahas di sini agar kunjungan ini menjadi bernilai lebih.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 hingga selesai secara keseluruhan pada tahun 2006. Masjid ini berdiri di atas lahan 10 hektar. Masjid Agung diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan masjid provinsi bagi provinsi Jawa Tengah.


Fasilitas yang ada di Masjid agung ini adalah: Di dalam area MAJT terdapat Menara Asma Al-Husna Setinggi 99 Meter terdiri dari : lantai 1 untuk Studio Radio DAIS MAJT, lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal.

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

MAJT memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat shalat. Beduk raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm. Merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia.

Tongkat khatib MAJT merupakan tongkat pemberian Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darusalam.



Kita bisa bayangkan betapa megah, modern dan indahnya bangunan ini berdiri, cukup untuk melimpahnya prestasi dan prestise untuk mengukuhkan tingginya sebuah kebudayaan dan keberagamaan.



Hari ini setelah 12 tahun berlalu semenjak masjid ini didirikan aku datang untuk sujud di atas sajadah empuknya pada waktu shalat Isya, setelah siap shalat sunnah aku sebarkan pandangan sekeliling “masih relatif terwat” gumam hati ini, sajadah,mihrab dan dan interior lainnya.

Kemudian aku beranjak dan mengitari masjid, jauh diluar pagar utama kulihat Bedug besar dibawah atap nya kokoh berdiri, namun kulihat di belakang mesjid cahayanya kurang memadai (krn bbrpa lampu tidak hidup), Masya Allah ternyata ada beberapa pasang muda mudi lagi asik bercengkrama di kegelapan itu, bahkan “sangat berani berpelukan”, (di bagian ini tidak ada kesan bahwa bangunan ini adalah “Masjid Agung”.

Karena malam, aku tidak dapat melihat secara leluasa, maka setelah me motret beberapa bagian aku kembali ke penginapan, dan aku berjanji setelah tugasku selesai seandainya ada waktu aku akan kembali siang hari.



Tadi Siang 27/6/2013 setelah kegiatanku selesai aku kembali datang ke Mesjid Megah itu. Aku tidak masuk Ruang Shalat Utama karena sudah dzuhur di penginapan.
Pertama yang kusaksikan adalah beberapa kolam air mancur yang terletak di gerbang, jenjang dan di dalam lingkungan 25 pilar masjid yang memiliki ratusan ujung pipa air mancur, dengan kondisi kurang terawat, tak satupun air mancurnya hidup, bahkan kolamnya pun sudah kering, ketika maniki tangga halaman sampai masuk ke arah pilar yang 25 buah kita dengarkan hentakan kaki kita dengan irama berbeda yang mencolok pertanda keramiknya sudah dalam kondisi tidak baik.  Terlihat Payung megah yang dalam kondisi tertutup namun beberapa terlihat terpalnya dalam kondisi tidak terawat.
Kemudian aku berpindah kemenara "tertinggi di semarang" yang berada di sebelah kiri pelataran masjid, setidaknya aku akan dapat menikmati kota semarang dari atasnya (dengan sepuasnya jepret-jepret), namun ketika dekat aku dapati sebuah spanduk terletak di depan gerbangnya “Maaf Menara di Tutup karena Lift sedang dalam perbaikan”. Maka seketika semua keinginanku jadi sirna, dan aku minta sopir mengantar ku ke “Demak Kota Para Wali”

Namun yang menggelitik aku untuk membahas ini adalah, mengingat Provinsi Sumatera Barat, juga sedang membangun “Masjid Raya Sumatera Barat” dengan semangat dan spirit membangun hampir sama dengan waktu Masyarakat Jawa Tengah  Membangun Masjid ini.

Hari ini Minimal 90% Bangunan Utama Masjid Raya Sumatera Barat sudah selesai. Sangat Megah, Moderen dan prestesius, jika selesai, terbayang akan sangat membanggakan dan meningkatkan status kebudayaan ranah bundo.
Namun mencermati yang terjadi di sini, kita harus memetik pelajaran bahwa ternyata, Keberhasilan Membangun Sebuah karya Spektakuler di bidang konstruksi dan fasilitas umum, maka dibutuhkan juga biaya yang tak sedikit dalam merawatnya.
Terlebih lagi bahwa Bangunan ini selain sarana ibadah juga sebagai cerminan budaya dan moral masyarakatnya.  Maka dukungan moral masyarakat Sumatera Barat akan sangat menentukan kondisi bangunan ini beberapa tahun, beberapa puluh tahun atau bahkan ratusan tahun kedepan.

Ini tidak hanya akan menjadi beban dan tugas Pemerintah, namun adalah tugas kita semua, semoga Kehadirn Masjid Raya Sumatera Barat akan lebih membuat kita Beriman, Berakhlak, dan Bertaqwa. Dengan menjaga Masjid ini secara Morat, spritual dan material, Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Sabtu, 01 Juni 2013

Zaldi Gantikan Jonimar Boer


Padang Ekspres • Kamis, 30/05/2013 13:49 WIB • Redaksi • 271 klik
Padang, Padek—Zaldi He­ri­wan akhirnya menempati kursi almarhum Djonimar Boer di DPRD Sumbar yang kosong selama empat bulan. Sekretaris DPW Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut, ke­marin (29/5), resmi dilantik Ketua DPRD Sumbar Yul­tekhnil.

Yultekhnil mengaku pro­ses keluarnya SK Zaldi Heri­wan tergolong cepat. Zaldi awalnya akan ditempati di Komisi III yang ditinggalkan almarhum Djonimar Boer. Namun dengan mem­pertim­bangan usulan dari DPW PBB serta mengacu pada tata tertib DPRD, akhirnya pria ke­lahiran Bukittinggi terse­but ditempatkan di Komisi IV.

Jika Zaldi telah dite­tap­kan, recall empat anggota dewan lainnya yang pindah partai belum keluar. Keem­patnya; Bachtul dari PBR ke Nasdem, Supardi dari PPP ke Gerindra, Israr Jalinus dari PAN ke Gerindra dan Mus­maizer dari Golkar ke Ha­nura. Khusus Ilson Chong, hingga kini belum menye­rahkan surat pengunduran diri ke DPRD Sumbar.

“Kita hanya mengingatkan rekan-rekan agar tidak ter­ganjal pada saat penetapan daftar caleg semen­tara (DCS) oleh KPU nanti, karena itu segeralah membuat surat pe­ngunduran diri bagi yang be­lum,” ungkap politisi Demok­rat tersebut.

Pelantikan Sekwan Belum Jelas

Di sisi lain, hingga kemarin Pemprov Sumbar belum juga memastikan kapan Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Sum­bar defenitif akan dilantik. Pada­hal, Pemprov telah me­ner­bitkan SK Syafruddin un­tuk mengisi jabatan fung­sional di parlemen Sumbar tersebut.

“Beberapa hari setelah saya men­dapatkan surat reko­men­da­si dari DPRD Sumbar yang me­milih Syafruddin untuk meng­isi jabatan Sekwan yang baru, SK-nya langsung saya keluarkan. Soal pelantikannya saya belum tahu, tapi itu akan diatur Sekda nantinya,” ujar Gubernur Irwan Prayitno usai pelantikan Zaldi.

Sementara Yulteknil, pe­lantikan adalah kewenangan Pemprov. (zul)

berita di ambil di http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=44215
Zaldi Heriwan Dilantik Menjadi Anggota DPRD Sumbar
Kategori: Daerah - Dibaca: 112 kali

Zaldi diambil sumpahnya oleh Ketua DPRD Sumbar Yultekhnil

Padang, KlikSumbar
Paripurna istimewa DPRD Sumbar tentang pelantikan Zaldi Heriwan dipimpin oleh Ketua DPRD Sumbar Yultekhnil. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Rabu (29/5) di ruang sidang utama DPRD Sumbar.
Zaldi Heriwan adalah Anggota DPRD pengganti antar waktu (PAW) dari anggota DPRD dari Partai Bulan Bintang Djonimar Boer (Alm). Zaldi diambil sumpah sebagai anggota DPRD Sumbar oleh Ketua DPRD Yultekhnil setelah nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Sementara Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada Zaldi semoga keberadaannya semakin bermanfaat bagi keberlangsungan kemitraan pemerintah daerah dan DPRD Sumbar.
"Hari ini kembali lengkap anggota DPRD dari Partai Bulan Bintang, semoga keberadaan saudara Zaldi bisa memberi makna bagi hubungan kemitraan antara DPRD dengan pemerintah daerah di Sumbar," ujar Gubernur Irwan.
Zaldi Heriwan saat ini merupakan Sekretaris DPW Partai Bulan Bintang Sumbar. Usai dilantik dia mengatakan kesiapan menjalankan tugas selaku anggota DPRD. "Saya siap lahir dan bathin menjalankan dan meneruskan tugas almarhum Bang Djon, untuk corong dan pejuang aspirasi rakyat," ujarnya.

berita di ambil di http://kliksumbar.com/berita-4708-zaldi-heriwan-dilantik-menjadi-anggota-dprd-sumbar.html